Sabtu, 29 Desember 2012

Empat Kali Hadapi Siksa Sakratul Maut

Empat kali hadapi siksa sakratul maut

Sakratul maut merupakan sebuah peristiwa luar biasa berat yang dihadapi oleh setiap manusia. Biasanya, keadaan sakratul maut yang dihadapi oleh seseorang ditentukan oleh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Bagi orang-orang yang hidupnya penuh dengan maksiat, dapat dipastikan orang tersebut akan menghadapi sakratul maut dengan berat dan  menyakitkan. Tetapi, bagi orang yang selama hidupnya taat beribadah kepada Allah swt, insya Allah  sakaratul maut yang dihadapinya lebih ringan.

Cerita ini merupakan kisah nyata yang saya dapatkan dari seorang kawan saya yang bekerja di rumah sakit di Jawa Timur, Ia bernama Abdul Ghofur. Di rumah sakit tersebut Ghofur bekerja sebagai pembimbing rohani yang  bertugas memberikan bimbingan agama Islam kepada para pasien. Salah satu tugasnya adalah menemani dan membimbing orang-orang yang sedang
mengalami sakratul maut.

Menurut, ceritanya ini merupakan pengalaman unik satu-satunya yang pernah ia temui selama dua tahun bertugas membimbing orang-orang sakit dan orang-orang yang sedang mengalami sakratul maut. Ghofur meminta kepada penulis untuk mengganti nama pasien dan merahasiakan nama daerah kejadian.

Pada suatu pagi di tahun 1999 yang lalu, seperti biasa, Ghofur pergi kerumah sakit tempatnya bekerja. Rupanya, hari itu datang seorang pasien baru, yang bernama Romi. Pasien tersebut menderita penyakit Leukimia yang sudah parah. Menurut keluarganya, sebelum dibawa kerumah sakit
Romi sudah satu bulan dirawat di rumahnya. Karena semangkin hari sakit yang dideritanya semakin parah, para tetangga memberikannya saran kepada keluarganya agar secepatnya membawa Romi ke rumah sakit.

Sampai dirumah sakit, Romi langsung dirawat di ruang ICU, tubuhnya yang besar tampak pucat dan lemah, tetapi sorot matanya seolah tidak mau diam. Dihidungnya terpasang pipa oksigen, dan tangannya terpasang pipa infus.

Seperti para pasien lainnya, beberapa jam setelah Ia masuk rumah sakit dan
mendapatkan perawatan secukupnya dari para dokter, Romi mendapat bimbingan agama Islam dari rumah sakit itu. Kebetulan Ghofur lah yang mendaptkan tugas membimbing laki-laki yang bertubuh besar itu.
Ketika pertama kali Ghofur mendatangi Romi. Romi sudah menunjukan sikap yang kurang bersahabat, tidak seperti pasien lain yang selalu merasa senang didatangi petugas rumah sakit. Ghofur sempat merasa sedikit takut melihat wajah pasien yang tidak sedikitpun memberikan senyum kepadanya.
Apa lagi ketika Ghofur melihat sekujur tubuh lelaki itu dipenuhi dengan berbagai gambar tato. Sisa-sisa bekas tato yang keras dan besarpun masih sedikit tampak pada tubuh itu, seolah member isyarat siapa laki-laki itu sebenarnya.

Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, Ghofur pun mulai memberikan bimbingan agama Islam kepada Romi. "Sebagai sesama muslim saya hanya mengingatkan, banyak-banyaklah berdo'a, sebab semua penyakit itu datangnya dari Allah, sehingga hanya Allahlah yang mampu mencabut kembali. Jangan lupa pula beristigfar. Kita sebagai manusia tentu tidak luput dari segala dosa dan kesalahan. Mudah-mudahan saja dengan istigfar Allah mau mengampuni dosa-dosa yang pernah kita perbuat," ucap Ghofur mencoba memulai memberikan bimbingan keagamaannya. "Sudah mas? Kamu itu emangnya siapa ? Saudara saya bukan, tetanggapun bukan,
berani benar menasehati saya!" ujar Romi kesal.

Ghofur terkejut mendengar sambutan yang tidak bersahabat dari pasien baru
itu, ia tidak menyangka seorang pasien yang tekulai lemah tanpa daya masih menunjukan kesombongannya di hadapan orang lain, terlebih dihadapan orang yang berniat membantu memberikan bimbingan keagamaan kepadanya. "Saya hanya hamba Allah yang kebetulan di tugaskan membiarkan bimbingan keagamaan kepada sertiap pasien yang beragama Islam. Saya hanya mneginginkan setiap pasien merasa tenang dan nyaman hatinya meskipun sedang sakit," Jawab Ghofur merendah.

"Mana ada orang sakit yang tenteram dan nyaman, kalau orang macam
begitu'sok memberikan nasehat seperti itu. Kalau kamu mau berkhotbah di masjid, jangan bawa-bawa khotbah kesini!". Ujar Romi dengan marahnya. Ghofur tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya dapat bersabar sambil
tidak berhenti-hentinya mengucapkan istighfar dalam hati.

"Baiklah kalau anda merasa terganggu dengan kehadiran saya, saya minta
maaf.Saya hanya bisa mendo'akan semoga anda lekas embuh", ucap Ghofur mengakhiri percakapan diantara mereka. Ghofurpun berlalu meninggalkan lelaki yang tampak masih kesal itu.

Rupanya sakit yang diderita oleh Romi terbilang sudah sangat parah, sehingga peluang untuk sembuh sangat kecil. Bahkan, satu minggu setelah kedatanganya di rumah sakit, sakit Romi akhirnya tidak bisa ditolong lagi. Pada siang yang panas itu, Romi harus berjuang menghadapi pedih dan sakitnya sakratul maut.

Beberapa perawat (suster) dan keluarga Romi ikut membantu menemani Romi menghadapi sakratul maut. Tidak ketinggalan, Ghofur juga di tugaskan membimbing lelaki itu mengajarkan kalimat-kaliamat talkin, agar sakratul maut yang dihadapinya bisa lebih mudah. "Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah...," bisik Ghofur  berulang-ulang ditelinga Romi. Para perawat dan keluarga Romi ikut membimbing Romi mengucapkan talkin.

Romi Tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya mengerang menahan sakit dengan
membuka mulut lebar-lebar, seolah menjerit kesakitan. Begitupula matanya membelalak terbuka lebar, seperti orang yang sangat ketakutan.

"Nyebut-nyebut, Rom. Nyebeut!" Ujar ibunya meminta anaknya menyebut
kalimat-kalimat talkin. "Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah..." Ghofur terus mmebisikan talkin di telinga Romi.

Meskipun orang disekeliling Romi terus berusaha mengajarinya mengucapkan talkin, tetapi Romi tetap saja tidak mampu mengucapkannya. Dari mulutnya hanya terdengar erangan-erangan berat menahan rasa sakit yang amat sangat. Waktu terus berlalu, setelah beberapa jam menahan pedihnya sakratul maut, akhirnya Romi menghebuskan nafas terakhirnya, dengan erangan panjang yang sangat memiriskan hati orang-orang yang melihat dan mendengarnya.

"hhhrrrrrrggggggghhhhh....!" Suara enrangan panjang dari suara Romi.
"Alhamdulillah..." Ucap Ghofur dan para perawat menunjukan rasa syukur
Atas berakhirnya penderitaan yang dialami Romi dalam menghadapi sakratul maut.

Ghofur segera mengusap wajah Romi untuk menutup matanya yang masih
terbelalak lebar. Para perawatpun mulai sibuk membuka pipa oksigen yang terpasang di hidungnya dan pipa infus yang terpasang di tangnnya. Semua orang yang hadir di ruangan itu yakin kalau Romi memang sudah meninggal.

Setelah semua peralatan yang semula terpasang di tubuh Romi di lepas para
perawat segera meninggalkan ruangan. Sementra itu Ghofur segera menutup jasad Romi dengan kain putih, menunggu ambulan yang akan membawanya setelah keluarga Romi mengurusi semua biaya perawatan Romi di rumah
sakit tersebut. Kira-kira sepulu menit setelah melepas nafas terakhirnya, tiba-tiba tubuh Romi yang tertutp kain putih itu bergerak-gerak kembali. Ghofur dan keluarga Romi yang kebetulan masih berada di ruang itu
terkejut bukan kepalang.

Ghafur setelah mendatangi tubuh yang dikiranya sudah mati itu. Ia membuka kain putih penutup tubuh Romi yang kesakitan menahan pedihnya sakratul maut pertama tadi. Ghafur terheran-heran, sebab ia yakin tadi Romi benar-benar sudah meninggal.

Pengalamannya selama ini dalam membimbing orang sekarat telah membuatnya hapal benar, bagaimana keadaan ornag yang melepaskan nafas terakhirnya dan mati. Tetapi kini keajaiban telah terjadi di depan matanya.

Ghafur segerah memanggil para perawat dengan menekan tombol yang ada di dingding ruang itu. "Dia hidup lagi," Kata Ghafur kepada para perawat yang tergesa-gesa masuk ruangan. Para perawat segera memasangkan kembali pipa infus dan oksigen ketangan dan kemulut Romi. Ghafur kembali
membimbing Romi dengan membisikan kalimat Talkin ke telinga lelaki yang kesakitan itu.

"Laa illaha illallah, laa ilaaha illallah..." bisik Ghafur  berulang-ulang. Keluraga Romi pun ikut membantu membimbing mengucapkan kalimat -kalimat talkin. Akan tetapi, Romi tetap saja tidak mampu mengucapkannya. Ia hanya terus mengerang, menahan rasa pedih yang sungguh menyakitkan.
Mata dan mulutnya terbuka lebar.

Ibu Romi tidak dapat menahan tangisnya menyaksilan anaknya menderita
kesakitan menghadapi sakratul maut. Wanita itu menatap anaknya dengan tatapan sayu sambil sekali-kali menyeka air mata yang terus merembes di sudut matanya.

"Hhhhrrrgggrgrggggghhhhh..." Orang yang hadir di ruangan itu merasa lega melihat Romi mengakhiri penderitaan sakratul mautnya. Ghofur dan para perawat memeriksa dengan teliti tubuh Romi untuk memastikan keadaan Romi yang sebenarnya. Ternyatan secara medis Romi memang sudah tidak bernyawa. Tetapi para perawat tidak mau mencabut dulu pipa infus dan oksigen yang menempel di tubuh Romi, karena khawatir kalau-kalau
kejadian seperti tadi terulang lagi .

Akhirnya jasad Romi dibiarkan beberapa saat di tempat tidurnya. Kurang lebih sepuluh menit kemudian, jasad itu bergerak-gerak kembali, seolah ada ruh baru yang dimasukan kembali ke jasad yang sudah meninggal itu. Orang-orang yang hadir di ruangan itu segera mengerumuni jasad Romi lagi,
mereka kembali membimbing Romi yang kesakitan. Setelah lebih dari dua
jam , Jasad Romi baru bisa mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Ghofur dan para perawat kembali memeriksa kondisi jasad Romi, Setelah
memastikan jasad itu sudah meninggal, mereka membiarkan lagi jasad itu tergeletak di atas tempat tidurnya. Mereka tetap khawatir kalau-kalau jasad itu bergerak kembali.

Ternyata dugaan mereka benar. Setelah sepuluh menit dibiarkan, lagi-lagi
jasad Romi bergerak dan mulutnya mengerang kesakitan. Persis kejadian sebelumnya, orang-orang disekitar ruangan itu berusaha membimbing Romi, tapi Romi tetap saja menahan kesakitan. Dua jam kemudian Romi benar-benar menghembuskan nafasnya yang terakhir, setelah empat kali merasakan
pedihnya sakratul maut.

Jasad Romipun dibiarkan di tempat tidurnya, mereka khawatir kalau-kalau
jasad Romi kembali bergerak. Tetapi setelah berjam-jam dibiarkan dan tidak bergerak kembali, para perawat segera mencabut pipa infus dan oksigen dari tangan dan mulut Romi.

Ghofur yang sudah berpengalaman menangani orang-orang yang sedang sakratul maut, yakin kalau kejadian yang baru saja disaksikan merupakan kehendak Allah atas perbuatan yang dilakukan Romi selama masa hidupnya. Ghofur tahu, biasanya keadaan sakratul maut seseorang menjadi cermin dari
perbuatan semasa hidup. Karena itu Ghofur ingin sekali menegtahui bagaimana kehidupan Romi semasa hidupnya.

Sebelum kelaurga Romi membawa jasad Romi pulang ke rumahnya, Ghofur sempat mendatangi keluarga Romi. Kepada mereka Ghofur terus terang bertanya apa yang telah dilakuakan oleh Romi sehinga ia harus mengalami penderitaan yang bergitu berat dalam menghadapi sakratul maut.

Kepada Ghofur akhirnya salah seorang kelaurga Romi menceritakan bahwa
anaknya selama hidupnya penuh dengan perbuatan maksiat. Setiap hari anaknya mencari uang dengan cara memaksa orang-orang di pasar untuk memberikan uang kepadanya. Hampir semua orang dipasar takut kepadanya. Selain itu juga anaknya suka berjudi dan mabuk-mabukan. Setiap malam, anaknya menghabiskan waktunya di meja judi ilegal dibelakang pasar, dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat.

Dari cerita yang diuangkapakan oleh keluarga Romi itulah kini Ghofur tahu
apa yang selama hidupnya dikerjakan oleh Romi. Maka tidak heran jika ketika menghadapi sakratul maut,ia merasakan kepedihan yang amat sangat, kerena harus merasakan ruhnya di cabut sebanyak empat kali. Semoga kisah tersebut memberikan iktibar atau pelajaran bagi kita semua. Amien.

Disandur dari : Majalah Hidayah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pasang Sumbernya : http://aneka-info05.blogspot.com//